"Rasanya pengin bunuh diri beneran," ucapnya kepada pers di Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jl Mh Thamrin, Rabu (18/5) malam. Tentunya, ini selorohan Titi semata.
"Soalnya, (tokoh Rayya yang diperankan Titi) susah. Ah! Susah banget!," imbuh Titi. Kendati demikian, Titi mengaku jatuh cinta dengan tokoh Rayya dan cerita film ini. "Saya suka skripnya, kalimat-kalimatnya luar biasa indah," kata Titi lagi.
Film yang syutingnya baru mulai 23 Juni, dan disutradarai Viva Westi ini merupakan road movie (film perjalanan—Red) yang menceritakan perjalanan Rayya, seorang diva, selama seminggu, di sepanjang Pulau Jawa hingga Pulau Bali, dalam rangka pembuatan buku biografinya.
Menjadi "diva" bukan berarti Titi bisa bersenang-senang, merasakan dunia glamor sang diva. "Jadi diva pastinya enggak gampang, karena saya sendiri bukan diva," tutur Titi.
Hal tersulit buat Titi adalah memahami dan menerjemahkan skrip yang digarap oleh sastrawan Emha Ainun Najib ke akting. "Paling berat skrip yang dibuat dengan dahsyat. Tek tok (komunikasi interaktif) dengan lawan main bagus, cerdas. Apalagi dialogku sangat panjang-panjang, ada yang sampai tiga lembar," ungkap Titi yang akan adu akting dengan pemain senior Tio Pakusodewo, yang kembali akan berperan sebagai fotografer.
Salah satu kata-kata indah dari Rayya, yang dijadikan tagline sementara: "Dunia sudah habis bagiku. Ruang dan waktu hanya menipu." Sesungguhnya, celetukan "ingin bunuh diri" yang dilontarkan Titi merupakan clue untuk film ini.
Menurut Westi, di awal perjalanan, Rayya dikisahkan punya keinginan bunuh diri, tapi batal. "Tapi di akhir perjalanan, Rayya tetap ingin bunuh diri, dengan cara berbeda," kata Westi.
Ditambah lagi, karakter Rayya yang sulit dan moody. "Grafik emosi Rayya tidak stabil, moody, tidak mau kompromi, sangat to the point, enggak ada basa basi, kalau ngomong sering sinis, dan matah-matahin omongan orang," jelas Titi.
Istri musisi Wong Aksan ini pun harus mengorbankan banyak hal. "Aku harus membiasakan diri jadi diva," kata pemeran TKI dalam film Minggu Pagi di Victoria Park ini.
"Hidup gue berat banget. Pakai softlens rasanya mau nangis. Masukinnya aja sampai setengah jam. Hebat banget diva yang kuat pakai softlens. Gue juga persiapan manjangin rambut, pakai anting panjang segala. Gue biasanya dandan biasa aja. Entah kenapa, diva-diva itu pada betah ya," katanya.
Titi pun mencoba memerhatikan cara berdandan Kate Winslet, Krisdayanti, hingga pedangdut Dewi Perssik, bahkan Julia Perez.
Agar meyakinkan sebagai diva, kostum-kostum yang dikenakan Titi di film adalah khusus rancangan desainer Musa Widyatmodjo. Bahkan, satu set busana dan aksesoris yang dikenakan Titi adalah rancangan Musa.
"Sebagai diva, Rayya mencari tempat-tempat indah untuk pemotretan baju-bajunya untuk bukunya. Makanya, ada 40 baju yang disiapkan Musa. Sepatu, gelang, anting, tas, dan syal, juga didesain Musa, sesuai lokasi," ungkap Dewi Umaya Rahman, sang produser.
Urusan musik film, Titi menyerahkannya ke Aksan, karena ia konsentrasi ke peran Rayya. Padahal ia biasanya membantu sang suami menata musik untuk film.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar